Wednesday, July 4, 2018

Keutamaan dan Manfaat Puasa Syawal Serta Waktu Pelaksanaannya



Puasa Syawal atau puasa 6 hari di bulan syawal memiliki hikmah dan keutamaan yang sangat luar biasa yaitu bagi siapa saja yang mengamalkan ibadah sunah puasa syawal 6 hari maka sama halnya berpuasa satu tahun penuh. 


Ini sungguh sangat istimewa sekali karena jika kita melakukan puasa 1 tahun penuh maka sangatlah berat bukan. 


Namun dengan hanya mengamalkan puasa enam hari di bulan syawal ini pahalanya sudah setara dengan puasa 1 tahun. 


Selain itu, Allah SWT juga akan menjadikan kebaikan 10 kali lipat bagi hambaNya yang mengamalkan puasa sunah syawal selama 6 hari. Subhanallah....

KEUTAMAAN PUASA SYAWAL


Dalil mengenai keutamaan puasa 6 hari di bulan syawal adalah sebagai berikut :


                                                                                   مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

   

Artinya :
Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 (enam) hari bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti puasa satu tahun penuh. (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Dari hadits diatas menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia yang sangat besar dari Allah SWT kepada hamba-hambaNya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa harus berpuasa selama 1 tahun.

Sungguh beruntung sekali jika kita dapat melaksanakan puasa syawal enam hari.

Ini sungguh keutamaan yang sangat luar biasa. Marilah kita melaksanakan puasa sunah ini demi mengharapkan rahmat dan ampunan Allah SWT.

MANFAAT PUASA SYAWAL


Ibnu Rojab ra, menyebutkan beberapa manfaat puasa enam hari di bulan Syawal, di antaranya:

1.    Berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan akan menyempurnakan ganjaran berpuasa setahun penuh.


2.    Puasa Syawal dan puasa Sya’ban seperti halnya shalat rawatib qobliyah dan ba’diyah. Amalan sunnah seperti ini akan menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada dalam amalan wajib. 

Setiap orang pasti memiliki kekurangan dalam amalan wajib. Amalan sunnah inilah yang nanti akan menyempurnakannya.

3.    Membiasakan berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah sat. jika menerima amalan hamba, maka Dia akan memberi taufik pada amalan sholih selanjutnya. 


Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan selanjutnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula orang yang melaksanakan kebaikan lalu dilanjutkan dengan melakukan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

4.    Karena Allah telah memberi taufik dan menolong kita untuk melaksanakan puasa Ramadhan serta berjanji mengampuni dosa kita yang telah lalu, maka hendaklah kita mensyukuri hal ini dengan melaksanakan puasa setelah Ramadhan. 


Sebagaimana para salaf dahulu, setelah malam harinya melaksanakan shalat malam, di siang harinya mereka berpuasa sebagai rasa syukur pada Allah atas taufik yang diberikan. (Disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, 244, Asy Syamilah).

WAKTU PELAKSANAAN PUASA SYAWAL


Adapun untuk pelaksanaan puasa syawal, lebih utama jika puasa enam hari ini dilakukan berturut-turut, karena termasuk bersegera dalam kebaikan, meskipun dibolehkan tidak berturut-turut. 


Lebih utama jika puasa ini dilakukan segera setelah hari raya Idhul Fithri, karena termasuk bersegera dalam kebaikan menunjukkan kecintaan kepada ibadah puasa serta tidak bosan mengerjakannya, dan supaya nantinya tidak timbul halangan untuk mengerjakannya jika ditunda.

Puasa Syawal  atau Qodho Dulu


Perlu dipahami bahwa membayar atau menunaikan qadha Ramadhan adalah hukumnya wajib. 


Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam rangkaian perintah puasa Ramadhan yakni,

“….Jika di antaramu ada yang tidak berpuasa karena sakit atau dalam perjalanan, wajib menggantinya pada hari-hari yang lain sebanyak hari kamu tidak berpuasa….” ( QS.Al Baqarah: 184)

Terkait hal ini apakah qadha dulu atau boleh puasa sunnah enam hari di bulan Syawal dulu, ada dua pendapat dikalangan ulama. 


Pendapat pertama, lebih afdhol atau lebih utama menunaikan qadha Ramadhan terlebih dahulu.

Misalnya pendapat yang disampaikan para ulama Hanabilah yang menyatakan bahwa haram hukumnya seseorang yang mendahulukan puasa sunnah sebelum mengqadho puasa Ramadhan. 


Menurut ulama ini bahwa tidak sah jika seseorang melakukan puasa sunnah padahal ia masih memiliki utang puasa di bulan Ramadhan meskipun waktu untuk mengqadho puasa tadi masih lapang. Sebab qadho puasa Ramadhan hukumnya wajib sementara puasa Syawal hukumnya sunnah sehingga mendahulukan yang wajib lebih utama daripada yang sunnah.


Pendapat kedua, boleh melakukan puasa sunnah di bulan Syawal meski dirinya masih punya utang puasa Ramadhan dan belum melakukan qadho. 


Alasannya bahwa dalam ayat “ wajib menggantinya pada hari-hari yang lain sebanyak hari kamu tidak berpuasa….” ( QS.Al Baqarah: 184), tidak disebutkan waktu menggantinya.


Pendapat bolehnya melakukan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal meski belum mengqadho puasa Ramadhan ini disampaikan oleh para ulama Hanafiyah. 


Mereka membolehkan melakukan puasa sunnah sebelum qadho puasa Ramadhan alasannya qadho puasa Ramadhan tidak mesti dilakukan sesegera mungkin atau setelah Ramadhan selesai.


Dari dua pendapat ini paling kuat dalam masalah ini adalah bolehnya melakukan puasa sunnah khususnya puasa sunnah enam hari di bulan Syawal sebelum ia menunaikan qadho puasa Ramadhan selama waktu mengqadho puasa Ramadhan masih longgar. 


Meski begitu tentu lebih baik jika setelah selesai puasa sunnah enam hari bulan Syawal, Kita segera melakukan qadho puasa Ramadhan. 


Jangan sampai menunda-nunda yang wajib sehingga Anda akan merasa tenang dan nyaman dalam menjalankan ibadah khususnya puasa sunnah yang lain misalnya Senin dan Kamis, puasa tengah bulan (ayyamul bidh) dan sebagainya. 


Wallahu’alam bishshawab.

sumber : 

http://www.blogkhususdoa.com/2016/07/hikmah-dan-keutamaan-puasa-syawal-6-enam-hari.html

http://percikaniman.id/2018/06/18/puasa-syawal-atau-qadha-dulu/

Read More

Tuesday, July 3, 2018

Penjelasan Tentang Ketindihan dari Sudut Pandang Islam & Medis serta Pencegahannya



 

Pernahkan Kita merasa terbangun, tetapi tidak dapat bicara atau bergerak?
Ingin bangun tidur tapi tidak bisa, sulit bergerak dan ingin berteriak juga sulit…
Belum lagi ditambah beberapa bayangan seram misalnya dikejar sesuatu yang menakutkan atau sedang ada yang mengancam jika kita tidak bergerak?
Masyarakat kerap kali menyebutnya sebagai ketindihan….


Benarkah ketindahan adalah  gangguan setan/jin ? atau ada logika yang bisa dicerna oleh akal?


SUDUT PANDANG MEDIS



Ketindihan, secara medis disebut dengan sleep paralysis, adalah peristiwa ini biasanya ditandai dengan ketidakmampuan untuk berbicara atau bergerak saat terbangun dari tidur atau ketika akan tidur, berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit.


Otot menjadi tidak aktif saat tidur,  Pada waktu ketindihan terjadi, ketidakaktifan otot berlanjut untuk beberapa saat dari masa tidur ke masa sadar.


Ini merupakan hal yang normal….


Saat mengalami ketindihan, ada kemungkinan juga mengakibatkan seseorang merasa sulit bernapas. 


Selain itu, tidak jarang ada yang merasakan sensasi lain, misalnya merasa ada sosok lain bersamanya. 

Ini merupakan halusinasi yang umum terjadi…


Ada dua jenis sleep paralysis yaitu :


•    Hypnagogic sleep paralysis.



Kelumpuhan atau paralysis jenis ini terjadi sebelum seseorang tertidur sepenuhnya. 


Umumnya ketika menjelang tidur, tubuh akan terasa makin rileks dan perlahan-lahan kehilangan kesadaran.


Bagi seseorang yang mengalami hypnagogic sleep paralysis, dirinya tetap tersadar, tapi dia tidak dapat berbicara atau menggerakkan tubuh.


•    Hypnopompic sleep paralysis.



Kelumpuhan semacam ini berlangsung ketika seseorang tersadar pada akhir masa tidur.

Umumnya, masa tidur terbagi menjadi dua, yaitu NREM (non-rapid eye movement) dan REM (rapid eye movement). 

Porsi NREM adalah sekitar 75 persen dari masa tidur, sementara sisanya menjadi masa tidur REM. 


Ketika seseorang tersadar sebelum masa REM berakhir, maka pada saat itulah bisa terjadi hypnopompic sleep paralysis.

SUDUT PANDANG ISLAM

 

Bisakah karena gangguan setan?
Bisa saja…


Karena mimpi buruk dan mimpi yang bisa membuat pelakunya ketakutan atau  terganggu adalah mimpi  dari Setan…


Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,


                                                                                         الرؤيا ثلاث حديث النفس وتخويف الشيطان وبشرى من الله

“Mimpi itu ada tiga macam: [1]bisikan hati, [2]ditakuti-takuti setan, dan [3]kabar gembira dari Allah.” ( HR. Muttafaqun ‘Alaih)


Dalam lafadz riwayat Muslim,    


 

إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ تَكْذِبُ وَأَصْدَقُكُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُكُمْ حَدِيثًا وَرُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُزْءٌ مِنْ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ وَالرُّؤْيَا ثَلَاثَةٌ فَرُؤْيَا الصَّالِحَةِ بُشْرَى مِنْ اللَّهِ وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنْ الشَّيْطَانِ وَرُؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَهُ فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ 
فَلْيُصَلِّ وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا النَّاسَ

“Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang sekali mimpi seorang muslim yang tidak benar. Dan orang yang paling benar mimpinya di antara kalian adalah yang paling benar ucapannya. Mimpi seorang muslim adalah sebagian dari 45 macam nubuwwah (wahyu). Mimpi itu ada tiga macam: (1) Mimpi yang baik sebagai kabar gembira dari Allah. (2) mimpi yang menakutkan atau menyedihkan, datangnya dari syetan. (3) dan mimpi yang timbul karena ilusi angan-angan, atau khayal seseorang. Karena itu, jika kamu bermimpi yang tidak kamu senangi, bangunlah, kemudian shalatlah, dan jangan menceritakannya kepada orang lain.” (HR. Muslim no 4200 )



Jadi mimpi ada tiga penyebabnya:


1.   mimipi yang baik dari Allah


2.   mimpi yang buruk dari syaithan


3.   mimpi “bunga tidur” yaitu mimpi karena terbawa pikiran atau terkejut dengan suatu peristiwa atau ada sesutau yang terus menerus sedang dipikirkan

Yang Harus Di Lakukan Ketika Mimpi Buruk    

 

Ada beberapa hal yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika seseorang mimpi buruk:

1.    Meludah kekiri 3 kali


2.   Memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari setan 3 kali, dengan membaca


أعوذ بالله من الشيطان الرجيم


“A’udzu billahi minas-syaithanir-rajiim” atau bacaan ta’awudz lainnya)


3.    Memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut


4.    Atau sebaiknya dia bangun kemudian melaksanakan Shalat


5.    Mengubah pisisi tidurnya dari posisi semula ia tidur, jika ia ingin melanjutkan tidurnya, walaupun ia harus memutar kesebelah kiri, hal ini sesuai zahir hadis


6.    Tidak boleh menafsir mimpi tersebut baik menafsir sendiri atau dengan meminta bantuan orang lain.


   

CARA MENCEGAH KETINDIHAN




Kita lakukan adab-adab sebelum tidur yang sudah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa doa-doa sebelum tidur. 


Dan juga adab-adab ketika terbangun dari tidur karena mimpi buruk. Karena Allah yang menjaga kita selama kita tidur. 


Keadaan tidur memang membuat kita lalai sehingga beberapa ulama (sebagian pendapat) menjelaskan bahwa tidur adalah mati “kecil”.


Sebagaimana dalam ayat.


Firman Allah Ta’ala,
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) ruh (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah ruh (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan ruh yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (Az-Zumar : 42)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, berkata,
أن أرواح الأحياء والأموات تلتقي في المنام، فيتعارف ما شاء الله منها، فإذا أراد جميعها الرجوع إلى أجسادها أمسك الله أرواح الأموات عنده وحبسها، وأرسل أرواح الأحياء حتى ترجع إلى أجسادها إلى أجل مسمى وذلك إلى انقضاء مدة حياتها.
“Sesungguhnya ruh orang yang hidup dan ruh orang mati bertemu dalam mimpi. Mereka saling mengenal sesuai yang Allah kehendaki. Ketika masing-masing hendak kembali ke jasadnya, Allah menahan ruh orang yang sudah mati di sisi-Nya, dan Allah melepaskan ruh orang yang masih hidup ke jasadnya, sampai batas waktu tertentu yaitu selama hidupnya.” ( Tafsir At-Thabari 21/298, Muassasah Risalah, 1420 H, syamilah )

1.    Membaca doa sebelum  tidur



                                                                                                                              بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ


“Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati.”   



اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ, لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ


“Ya Allah. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu karena mengharap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (ancaman)-Mu kecuali kepada-Mu, aku memohon

2.    Tidur dalam keadaan suci


Tidur dalam keadaan suci akan membuat hati dan pikiran kita terjaga…


Sangat di anjurkan oleh Rasulullah SAW, bahkan malaikat pun akan mendekat dan mendoakan kita..


 Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


                                    مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا


“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.'” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)




Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan beberapa manfaat berwudhu sebelum tidur,

وَلَهُ فَوَائِد : مِنْهَا أَنْ يَبِيت عَلَى طَهَارَة لِئَلَّا يَبْغَتهُ الْمَوْت فَيَكُون عَلَى هَيْئَة كَامِلَة , وَيُؤْخَذ مِنْهُ النَّدْب إِلَى الِاسْتِعْدَاد لِلْمَوْتِ بِطَهَارَةِ الْقَلْب لِأَنَّهُ أَوْلَى مِنْ طَهَارَة الْبَدَن .. ، وَيَتَأَكَّد ذَلِكَ فِي حَقّ الْمُحْدِث وَلَا سِيَّمَا الْجُنُب وَهُوَ أَنْشَط لِلْعَوْدِ , وَقَدْ يَكُون مُنَشِّطًا لِلْغُسْلِ ، فَيَبِيت عَلَى طَهَارَة كَامِلَة . وَمِنْهَا أَنْ يَكُون أَصْدَق لِرُؤْيَاهُ وَأَبْعَد مِنْ تَلَعُّب الشَّيْطَان بِهِ


Ada banyak manfaat dari berwudhu sebelum tidur, diantaranya, orang itu tidur dalam kondisi suci, agar ketika kematian menjemputnya, dia berada dalam keadaan sempurna. 


Dari hadis ini juga terdapat pelajaran agar kita selalu menyiapkan diri menghadapi kematian, dengan menyucikan hati. Karena kesucian hati lebih diutamakan dari pada kesucian badan…, lebih ditekankan lagi untuk orang yang sedang berhadas, terutama orang junub, agar bisa kemabli segar atau memicu untuk mandi. Sehingga dia bisa tidur suci dari semua hadats. 

Kemudian, diantara manfaat wudhu ini, untuk mengundang mimpi yang baik, dan dijauhkan dari permainan setan ketika tidur. (Fathul Bari, 11/110)

Sumber :
https://www.alodokter.com/fakta-medis-di-balik-fenomena-ketindihan
https://muslimafiyah.com/fenomena-ketindihan-syariat-dan-medis.html#_ftn1
https://hafiziazmi.com/ketindihan-jin/
https://konsultasisyariah.com/13594-tiga-catatan-tentang-mimpi-buruk.html
https://konsultasisyariah.com/18682-keutamaan-berwudhu-sebelum-tidur.html

   

Read More

Monday, July 2, 2018

MUSIM HUJAN? BEGINILAH SIKAP MUSLIM TERHADAP HUJAN

        
                Alhamdulillah, segala puji dan syukur senatiasa di kita haturkan kepada Allah subhanahu wata’ala, yang telah menciptakan alam semesta beserta apa yang ada di dalamnya dengan kuasa-Nya, dzat yang tidak lupa dan tidak tidur serta senatiasa mengurusi dan mengawasi hamba-hamba-Nya, dan tidak ada sesuatu apapun yang luput dari pengawasan-Nya.

Kemudian sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada uswatun hasanah yakni Nabi Muhammad Saw, beserta keluarganya, para sahabatnya dan seluruh umatnya yang senantiasa mengikuti dan mengamalkan sunnah-sunnahnya.

Kemudian daripada itu, segala Sesutu yang Allah ciptakan di alam tidaklah sia-sia, melainkan semuanya terdapat manfaat dan hikmah bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur kepada-Nya.

Allah telah menciptakan air yang sangat berperan penting dalam kehidupan semua makhluk hidup. Salah satunya adalah air yang Allah turunkan dari langit yaitu air hujan.

Namun terkadang manusia mengeluh  dengan adanya hujan itu dan menganggapnya sebagai musibah yang menjadi kendala untuk melaksanakn suatu kewajiban, dan sering pula menyalahkan hujan dan alam sekitar, sehinggnya manusia menjadikan hujan sebagai alasan untuk tidak melasanakan kewajiban. 

Oleh karena itu makalah ini membahas tentang hikmah adanya hujan dan penyikapan hujan menurut islam.

Dan tentunya makalah ini sangatlah jauh dari kata sempurna, karenanya penulis mengharapkan pembaca sudi untuk mengoreksi dan memberikan saran atas kekurangan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

A.       HUJAN MENURUT ISLAM 

 

          Di dalam islam, segala apa yang diciptakan oleh Allah pasti memiliki makna dan tujuan tersendiri yang ingin dicapai. Semua gejala alam yang ada di semesta ini Allah ciptakan bukan tanpa tujuan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Allah ciptakan angin, udara, air, tanah, manusia lain di muka bumi ini semata-mata agar manusia dapat hidup dengan baik dan beribadah hanya kepada Allah SWT

Dari seluruh gejala alam, ada yang berupa kenikmatan dari Allah, berbentuk ujian, bahkan adzab bagi manusia. Salah satunya adalah mekanisasi hujan yang ada di bumi kita ini. Hujan bukan sekedar turunnya air di muka bumi, melainkan memiliki tujuan dan makna tersendiri bagi islam.

Hujan di bahas dalam Al-Quran karena fenomena alam adalah bagian dari Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tidak bisa dipisahkan. Selain itu mempelajari fenomena alam, salah satunya hujan merupakan bagian dalam memperkuat  , Ilmu Tauhid Islam, Ilmu Filsafat Islam , dan Ilmu Kalam dalam Islam.

Berikut adalah penjelasan mengenai hujan menurut islam disertai hikmah dan makna yang bisa kita ambil:
  

     1.   Nikmat Hujan di dalam Al-Quran


Di dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat Allah yang menjelaskan dan menyebutkan masalah hujan dalam kehidupan manusia. Untuk itu, hujan menyimpan berbagai makna dan fungsi mendalam yang jika kita renungkan sangat berpengaruh terhadap hajat hidup manusia di muka bumi. Berikut adalah ayat-ayat Allah yang berkenaan dengan hujan dan kenikmatan di balik peristiwa hujan.


•    Hujan adalah Nikmat Bagi Manusia

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. “ (QS Al A’raf : 57)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa hujan adalah sebagai kabar gembira bagi manusia. Air hujan memberikan nikmat kepada manusia, menyuburkan tanah yang tandus dan menjadikan tanah-tanah tersebut menjadi subur dan tumbuh lah tanaman-tanaman yang bermanfaat bagi manusia. Buah-buahan, sumber makanan tentunya didapatkan dari proses antara siklus hujan dan juga panen.

Sering kali manusia mengeluh jika hujan datang, namun di sisi lain seharusnya manusia bersyukur karena hujan adalah nikmat yang Allah berikan. Hujan Allah berikan dalam sunnatullah yang sempurna. Hujan tidak datang setiap hari melainkan sesuai siklusnya. Jika tanpa hujan tentu manusia tidak akan bisa menikmati air yang bersih, akan kehausan, kurangnya sumber makanan dan buah-buahan, serta kekeringan.

•     Hujan untuk Mensucikan Diri

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)” (QS Al-Anfal : 11)
Jika kita memahami ayat di atas, maka kita bisa memahami bahwa air hujan dapat mensucikan diri kita. Air hujan adalah sumber air di muka bumi kita. Untuk itu dari air tersebut dapat digunakan dalam hal :

- Berwudhu
- Mandi
- Membersihkan Hadas
- Menjaga kenetralan suhu udara dalam tubuh, dsb

Manusia dapat membayangkan sendiri apabila tanpa air hujan yang Allah turunkan dengan segala hukum alam yang dibuat-Nya dengan Kebesaran-Nya, tentu manusia tidak akan bisa menikmati rezeki dalam bentuk kesucian dan kebersihan diri. Seperti yang kita ketahui bahwa kebersihan dan kesucian diri adalah awal dari kesehatan lahir dan batin diri manusia.
 

•    Hujan adalah Sumber Rezeki Manusia 

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 22)

Di balik peristiwa hujan, terdapat banyak sekali sumber rezeki disana. Buah-buahan dan sumber kehidupan berasal dari air. Bahkan bumi kita ini sebagian besarnya dipenuhi oleh air. Begitupun tubuh manusia yang juga didominasi oleh air. Air menjadi kebutuhan dasar atau utama manusia. Untuk itu, adanya siklus hujan membuat kita bisa melaksanakan kehidupan di muka bumi ini dengan jumlah air yang cukup.

Kasus-kasus kekeringan tentunya mengajarkan kita bahwa betapa pentingnya air dari hujan yang diturunkan oleh Allah. Tanpa-nya manusia akan kekeringan dan kehilangan hidupnya.
 

     2.   Hujan Bisa Menjadi Ujian atau Peringatan dari Allah


Selain dari bentuk kenikmatan dari Allah, hujan  juga bisa menjadi bentuk ujian atau peringatan dari Allah terhadpa manusia. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam ayat-ayat Al-Quran sebagai berikut.
•    Hujan Batu adalah Peringatan Allah
“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (QS Asy syuara : 173)
Hujan
Untuk itu, angin besar dan hujan batu Allah turunkan kepada masayrakat Nabi Luth yang tidak mau mengikuti kebenaran. Kali ini hujan yang Allah turunkan bukan beruba kenikmatan melainka peringatan seperti adzab bagi mereka yang ingkar pada rukun iman, rukun islam, Iman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, dan Hubungan Akhlak dengan Iman.
•    Ketakutan Saat Hujan
“atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir” (QS Al Baqarah : 19)

Ketakutan bisa saja muncul ketika hujan terjadi. Hujan yang disertai oleh petir dan kilat tentu saja adalah peristiwa yang bisa membuat manusia memunculkan ketakutan. Untuk itu, biasanya orang-orang akan khawatir atau takut mati ketika muncul peristiwa tersebut. Untuk itu Allah mengingatkan bahwa orang-orang kafir akan takut mati tetapi mereka tidak pernaah taat dan mengikuti apa yang Allah perintahkan.
•    Hujan dapat menjadi Bencana
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Rum : 41)

Sebagaimana yang Allah sampaikan dalam ayat di atas, bahwa di muka bumi bisa saja terjadi peristiwa yang membuat manusia merugi. Hal tersebut adalah karena manusia berbuat kerusakan. 

Adanya hujan bisa menjadi bencana bagi manusia contohnya saja banjir atau longsor sampah akibat manusia lalai dalam menerapkan sunnatullah dalam hal alam.

Sejatinya segala yang Allah ciptakan bisa menjadi nikmat, rezeki, ujian bahkan adzab bagi kita sesuai dengan apa yang kita lakukan dan telah laksanakan di muka bumi. Tentunya kita ingin selalu jadi hamba Allah yang bersyukur dan senantiasa menjadikan apa yang Allah berikan sebagai bentuk usaha kita dalam mencapai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama.

    3.   Datangnya Hujan Adalah Berkah, Bukan Musibah

 

"Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9)"

Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat, tidak hanya manusia, tapi hampir semua makhluk.

Hujan juga memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.

Dalam al-Quran Surat Az-Zukhruf, Allah memberikan informasi bahwa hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”.

 الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS: Az-Zukhruf : 11)

Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat diperlukan oleh seluruh makhluk. Allah pula menurunkan hujan agar banyak orang mendapat kegembiraan setelah bertahun-tahun hamper putus asa menunggu. Karena itu, al-Quran menyebut hujan sebagai rahmat dan berkah, bukan musibah.

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
 
“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS: Asy-Syuura [41] : 28).

Dengan mengirim hujan-lah, Allah menyuburkan tanaman-tanaman yang dibutuhkan manusia dan semua mahkluk yang hidup di bumi, menumbukan pepohonan dan buah-buahan dan biji tanaman yang dibutuhkan manusia.

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9).

Yang dimaksud keberkahan di sini adalah turunnya hujan, lebih banyak melahirkan kebaikan (manfaat), daripada mudharatnya (keburukan).

Di antara keberkahan dan manfaat hujan adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sangat memerlukannya untuk keberlangsungan hidup, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.” (QS. Al Anbiya’ (21) : 30). 

Al Baghowi menafsirkan ayat ini, “Kami menghidupkan segala sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab hidupnya segala sesuatu.

B.    SIKAP MUSLIM SAAT TURUN HUJAN

 

Umat Islam dianjurkan berdoa dan bersyukur ketika datangnya hujan, bukan mencela layaknya kaum kafir.   Umat Islam memiliki cara dan adab berbeda dengan kaum agama lain, termasuk dalam urusan menyikapi datangnya muslim hujan tiba. Inilah yang membedakan agama Islam dengan agama yang lain. Menyikapi hal ini Islam mengajarkan kepada umatnya untuk memperhatikan adab-adab di musim ini.

Tidak ada setetes air hujan yang membasahi bumi ini kecuali atas kehendak Allah. Ia merupakan rahmat Allah kepada bumi dan seisinya. Melalui hujan Allah menumbuhkan berbagai tanaman untuk memberi rezeki kepada umat manusia. Dalam al-Qur`an Allah berfirman:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ
رِزْقاً لِّلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتاً كَذَلِكَ الْخُرُوجُ

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (Qaaf [50]: 9-11)

Pertama, Imam An Nawawi dalam al-Adzkar (1/182) berkata, “Dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah atas curahan nikmat ini, yaitu nikmat diturunkannya hujan.”

Kedua, berdoa kepada Allah agar hujan tersebut membawa manfaat. Adalah Rasulullah ketika melihat hujan langsung berdoa: اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا (Ya Allah, jadikan hujan ini sebagai hujan yang membawa manfaat dan kebaikan.” (Riwayat Bukhari)

Ketiga, mengguyur sebagian badan dengan air hujan Ketika hujan datang Rasulullah membasahi badannya dengan air hujan.

Dari Anas RA, dia berkata, “Hujan mengguyur kami beserta Rasulullah. Kemudian Rasulullah menyingkap sebagian bajunya sehingga hujan membasahi sebagian tubuhnya. Kami bertanya kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu?’ Beliau menjawab, ‘Aku melakukannya karena hujan tersebut adalah rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah’.” (Riwayat Muslim)

Keempat, banyak berdoa Hujan merupakan salah satu tanda dikabulkannya doa seorang hamba. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,

“Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] saat hujan turun.” (Riwayat Imam Syafi’i dan Al Baihaqi)

Kelima, berdoa agar cuaca dicerahkan kembali

Apabila hujan turun dengan derasnya dan dikhawatirkan membawa mudharat, kita dianjurkan untuk berdoa kepada Allah agar cuaca dicerahkan kembali, sebagaimana Hadits riwayat Anas, dimana Rasulullah berdoa dengan lafadz:

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺣَﻮَﺍﻟِﻴْﻨَﺎ ﻭَﻻَ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ،ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّﻋَﻠَﻰ ﺍْﻵﻛَﺎﻡِ،ﻭَﺍﻟﺠِْﺒَﺎﻝِ،ﻭَﺍْﻟﻈَﺮَﺍﺏِ،ﻭَﺑُﻄُﻮْﻥِ ﺍْﻷَﻭْﺩِﻳَﺔِ،ﻭَﻣَﻨَﺎﺑِﺖِ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di daerah sekitar kami, bukan di daerah kami. Turunkanlah hujan di perbukitan, pegunungan, di lembah-lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Keenam, berdoa ketika mendengar petir yang mengkhawatirkan

Dari Abdullah ibnu ‘Umar RA, bahwa Rasulullah apabila mendengar suara petir, maka beliau berujar:

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗَﻘْﺘُﻠْﻨَﺎ ﺑِﻐَﻀَﺒِﻚَ،ﻭَﻻَ ﺗُﻬْﻠِﻜُﻨَﺎﺑَﻌَﺬَﺍﺑِﻚَ،ﻭَﻋَﺎﻓِﻨَﺎ ﻗَﺒْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ

“Ya Allah, janganlah Engkau hancurkan kami dengan kemarahan-Mu dan janganlah Engkau binasakan kami dengan azab-Mu, selamatkanlah diri kami sebelum hal tersebut terjadi.” (Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad, Tirmidzi dan Hakim). Demikianlah beberapa adab Muslim membedakan dengan umat lain dalam menyikapi hujan.


C.    KESIMPULAN

 

•    Semua yang Allah ciptakan di muka bumi pasti terdapat  manfaat dan  hikmah di      dalmnya bagi orang-orang yang beriman.
•    Hujan adalah rahmat yang Allah turunkan bagi orang-orang yang beriman, maka tidak di benarkan ketika hujan turun, manusia mengeluh dan menyalahkan hujan, melainkan harus menyambutnya dengan penuh syukur kepada Allah.
•    Karena hujan adalah rahmat dan nikmat  dari Allah tidaklah di perkenankan bagi setiap muslim untuk mengeluh ketika turun hujan apalagi sampai mencela hujan. Oleh karena itu,   sorang muslim dalam melaksanakan aktifitas kesehariannya, harus senatiasa menyiapkan diri untuk menghadapi  kemungkinan yang akan terjadi, kalaulah hujan turun, bukanlah suatu alasan bagi mujahid  untuk tidak melaksanakan kewajiban, melainkan harus mempersiapkan sesuatu yang bisa melindungi dari hujan, seperti mantel dan lain sebagainya.
•    Hujan bukanlah suatu alasan untuk tidak melaksanakan kewajiban.

D.    DAFTAR PUSTAKA

•    http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2015/01/05/36185/begini-sikap-muslim-saat-musim-hujan-tiba.html# 
•    https://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2014/01/28/15582/datangnya-hujan-adalah-berkah-bukan-musibah.html
•    https://dalamislam.com/landasan-agama/al-quran/hujan-menurut-islam


Read More